Kue keranjang pembawa kemakmuran di Tahun Baru Imlek

Tuesday, February 12, 2013

Kue keranjang pembawa kemakmuran di Tahun Baru Imlek


Siapa yang tahu kue keranjang? Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah ini merupakan makanan yang wajib ada setiap perayaan tahun baru China atau Imlek. Tanpa kue keranjang, rasanya Imlek kurang lengkap.
Konon, kue keranjang atau disebut juga Nian Gao ini disebut-sebut sebagai makanan yang dihidangkan untuk Dewa Tungku. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa setiap tahu baru, Dewa Tungku akan kembali ke surga untuk melaporkan perbuatan manusia. Agar Dewa Tungku merasa senang dan tidak melaporkan hal-hal yang buruk terhadap raja Surga, masyarakat memberikan persembahan berupa kue keranjang.
Seperti dilansir oleh Chinatownology, kata Nian Gao sendiri memiliki legenda yang panjang. Kata Nian berasal dari nama monster yang tinggal di dekat pedesaan. Monster Nian ini seringkali memangsa hewan-hewan hutan.

Namun karena pada musim dingin semua hewan tidur, monster Nian mulai mencari makanan lain. Pergilah dia ke sebuah pemukiman warga untuk mencari makan. Hal ini diketahui oleh salah satu warga yang bernama Gao.
Khawatir monster Nian akan memangsa penduduk desa, Gao pun membuat makanan dari tepung ketan dan menaruhnya di depan rumah warga. Ketika monster Nian datang bermaksud memangsa warga, dia akhirnya memakan kue yang dibuat Gao. Setelah kenyang, Nian pun kembali ke sarangnya. Akhirnya kue tersebut bisa menyelamatkan nyawa warga desa. Untuk merayakan keselamatan mereka, warga pun membuat kue ini setiap tahun baru dan menamakannya kue Nian Gao.
Nian Gao sendiri dalam bahasa China berarti kemakmuran. Sehingga setiap tahun baru dengan menyediakan kue keranjang, mereka berharap bisa mendapatkan kemakmuran.
Kue keranjang berbentuk bulat serta memiliki rasa yang legit dan manis. Biasanya kue ini akan disajikan dengan cara ditumpuk mengerucut ke atas. Di bagian atas kue keranjang pun seringkali dihias dengan huruf China yang melambangkan kemakmuran.
Membuat kue keranjang bukan perkara mudah, karena api yang digunakan harus stabil. Hal ini sesuai dengan penuturan Andi, salah satu warga keturunan Tionghoa asal Kalimantan.
"Biasanya kue keranjang dimasak di api besar. Apinya harus stabil, kalau tidak nanti gosong. Misalkan kalau apinya terlalu besar," ungkap Andi.
Cara mengonsumsi kue keranjang pun bermacam-macam. Anda bisa mengukusnya terlebih dahulu, kemudian menyajikannya dengan parutan kelapa, atau langsung dipotong-potong dan dihidangkan dengan santan. Cara ini dilakukan agar kue keranjang tak terasa keras saat dimakan.

0 comments :